News Details

Deteksi Dini pada Pekerja Pelabuhan: Memperkuat Langkah Menuju Eliminasi TBC

Info
dikirim pada Jul 25, 2026 12:00 AM
oleh: dr. Ruslan

Dalam rangka menyukseskan Program Penanggulangan Tuberkulosis (TBC) Nasional Tahun 2026 yang berfokus pada percepatan eliminasi TBC menuju target Indonesia bebas tuberkulosis pada tahun 2030, berbagai upaya deteksi dini terus diperluas hingga menjangkau kelompok masyarakat dengan mobilitas dan risiko paparan yang tinggi. Salah satu kelompok tersebut adalah Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di kawasan pelabuhan, yang setiap hari berinteraksi dalam lingkungan kerja dengan intensitas tinggi dan menjadi bagian penting dari aktivitas logistik nasional. Pendekatan skrining aktif kepada kelompok pekerja ini merupakan langkah strategis sebagai salah satu pilar utama untuk menemukan kasus sedini mungkin, mencegah penularan, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan di lingkungan kerja.

 

Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Makassar menyelenggarakan kegiatan skrining kesehatan bagi Tenaga Kerja Bongkar Muat pada Kamis, 23 Juli 2026, di Kantor TKBM Kawasan Pelabuhan Makassar. Kegiatan ini tidak hanya mendukung percepatan penemuan kasus tuberkulosis, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan penyakit menular lainnya di kawasan pintu masuk negara. Melalui pemeriksaan kesehatan yang komprehensif, BBKK Makassar menghadirkan layanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif sebagai bagian dari penguatan sistem kewaspadaan kesehatan di lingkungan pelabuhan, sekaligus memastikan bahwa para pekerja yang menjadi penggerak roda perekonomian memperoleh perlindungan kesehatan yang optimal.


 

Pelabuhan merupakan salah satu simpul strategis yang mempertemukan arus manusia, barang, dan alat angkut dari berbagai daerah, bahkan berbagai negara. Tingginya mobilitas tersebut menjadikan kawasan pelabuhan memiliki karakteristik tersendiri dalam perspektif kesehatan masyarakat. Selain menjalankan fungsi ekonomi, pelabuhan juga memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan kesehatan nasional. Oleh karena itu, upaya pencegahan penyakit tidak cukup hanya dilakukan terhadap pelaku perjalanan dan alat angkut, tetapi juga harus menyentuh para pekerja yang setiap hari menjadi bagian dari dinamika aktivitas di kawasan pelabuhan.

 

Bagi Tenaga Kerja Bongkar Muat, kesehatan merupakan modal utama dalam menjalankan profesinya. Aktivitas fisik yang berat, jam kerja yang dinamis, serta interaksi dengan banyak orang menjadikan mereka kelompok yang memerlukan perhatian khusus dalam aspek kesehatan. Tidak jarang, kesibukan bekerja membuat para pekerja menunda pemeriksaan kesehatan hingga gejala penyakit sudah berkembang. Melalui kegiatan skrining ini, layanan kesehatan hadir lebih dekat dengan pekerja sehingga deteksi dini dapat dilakukan sebelum penyakit berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

 

Sebanyak 50 orang Tenaga Kerja Bongkar Muat mengikuti skrining kesehatan yang dilaksanakan secara terpadu. Seluruh peserta terlebih dahulu menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang meliputi pemeriksaan tekanan darah, denyut jantung, saturasi oksigen, serta pengukuran antropometrik berupa berat badan, tinggi badan, lingkar perut, dan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Pemeriksaan tersebut memberikan gambaran awal mengenai kondisi kesehatan setiap peserta sekaligus menjadi dasar pemberian edukasi mengenai pola hidup sehat dan pengendalian faktor risiko penyakit.


 

Selain pemeriksaan kesehatan dasar, skrining juga difokuskan pada deteksi dini penyakit infeksi menular seksual (IMS), khususnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan sifilis. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode Rapid Diagnostic Test (RDT) yang mampu memberikan hasil awal secara cepat dengan tetap mengedepankan prinsip kerahasiaan dan kenyamanan peserta. Pendekatan ini merupakan bagian dari strategi pencegahan yang menempatkan deteksi dini sebagai langkah utama untuk memutus mata rantai penularan penyakit di masyarakat.

 

Hasil pemeriksaan menunjukkan capaian yang menggembirakan. Dari seluruh peserta yang mengikuti skrining, 100 persen memperoleh hasil nonreaktif pada pemeriksaan HIV maupun sifilis. Temuan tersebut menjadi indikator positif bahwa kondisi kesehatan para peserta, khususnya terkait penyakit infeksi menular seksual yang diperiksa, berada dalam kondisi baik. Meskipun demikian, para peserta tetap diberikan edukasi mengenai perilaku hidup sehat, pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta upaya pencegahan agar kondisi tersebut dapat terus dipertahankan.

 

Perhatian utama kegiatan ini juga diarahkan pada upaya penanggulangan tuberkulosis. Skrining dilakukan melalui wawancara mengenai gejala, riwayat kesehatan, serta identifikasi faktor risiko. Dari hasil skrining tersebut, satu orang peserta teridentifikasi sebagai suspek tuberkulosis sehingga dilakukan pengambilan sampel sputum untuk selanjutnya diperiksa di laboratorium. Langkah ini merupakan bagian dari prosedur standar dalam penemuan kasus aktif (active case finding), yang memungkinkan diagnosis ditegakkan secara lebih akurat sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi TBC.

 

Pendekatan deteksi dini seperti ini memiliki arti penting dalam pengendalian tuberkulosis di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis tersebut masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan nasional. Banyak penderita yang baru terdiagnosis ketika penyakit telah berkembang atau setelah terjadi penularan kepada orang lain. Oleh karena itu, menemukan kasus sejak tahap awal merupakan salah satu strategi paling efektif untuk memutus rantai penularan sekaligus meningkatkan keberhasilan pengobatan.

 

Kegiatan skrining kesehatan ini juga mencerminkan transformasi pelayanan kesehatan yang saat ini semakin mengedepankan upaya promotif dan preventif. Pelayanan kesehatan tidak lagi hanya menunggu masyarakat datang ketika sakit, tetapi hadir secara aktif menjangkau komunitas-komunitas yang memiliki risiko tertentu. Melalui pendekatan tersebut, setiap individu memperoleh kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga berbagai penyakit dapat dicegah sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.

Sebagai institusi yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan di kawasan pintu masuk negara, BBKK Makassar terus memperkuat perannya melalui berbagai kegiatan perlindungan kesehatan masyarakat. Selain melakukan pengawasan terhadap alat angkut, pelaku perjalanan, barang, serta faktor risiko kesehatan lainnya, BBKK Makassar juga berupaya membangun budaya hidup sehat di lingkungan pelabuhan melalui edukasi, skrining kesehatan, dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan kolaboratif ini menjadi kunci dalam menciptakan kawasan pelabuhan yang aman, sehat, dan produktif.

 

Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang diperiksa, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran para pekerja mengenai pentingnya deteksi dini penyakit. Kesediaan para Tenaga Kerja Bongkar Muat untuk mengikuti pemeriksaan menunjukkan bahwa kesadaran terhadap kesehatan semakin tumbuh. Hal ini menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam mendukung keberhasilan berbagai program kesehatan nasional, termasuk percepatan eliminasi tuberkulosis.

 

Pada akhirnya, menjaga kesehatan pekerja pelabuhan berarti menjaga keberlangsungan salah satu urat nadi perekonomian Indonesia. Para Tenaga Kerja Bongkar Muat tidak hanya memindahkan barang dari kapal ke darat atau sebaliknya, tetapi juga menjadi bagian penting dari sistem logistik yang menopang kehidupan masyarakat. Ketika kesehatan mereka terlindungi, produktivitas tetap terjaga, risiko penyebaran penyakit dapat ditekan, dan ketahanan kesehatan di kawasan pintu masuk negara semakin kuat. Melalui langkah sederhana berupa skrining kesehatan, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Makassar menunjukkan bahwa perlindungan kesehatan dimulai dari kepedulian terhadap manusia yang berada di balik setiap aktivitas pelabuhan, sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dan bebas tuberkulosis pada tahun 2030.

KOMENTAR

Tinggalkan Pesan





Ada yang bisa kami bantu?