News Details
Deteksi Dini pada Pekerja Pelabuhan: Memperkuat Langkah Menuju Eliminasi TBC
Dalam rangka
menyukseskan Program Penanggulangan Tuberkulosis (TBC) Nasional Tahun 2026 yang
berfokus pada percepatan eliminasi TBC menuju target Indonesia bebas
tuberkulosis pada tahun 2030, berbagai upaya deteksi dini terus diperluas
hingga menjangkau kelompok masyarakat dengan mobilitas dan risiko paparan yang
tinggi. Salah satu kelompok tersebut adalah Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di
kawasan pelabuhan, yang setiap hari berinteraksi dalam lingkungan kerja dengan
intensitas tinggi dan menjadi bagian penting dari aktivitas logistik nasional.
Pendekatan skrining aktif kepada kelompok pekerja ini merupakan langkah
strategis sebagai salah satu pilar utama untuk menemukan kasus sedini mungkin,
mencegah penularan, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga
kesehatan di lingkungan kerja.
Sebagai wujud
nyata komitmen tersebut, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Makassar
menyelenggarakan kegiatan skrining kesehatan bagi Tenaga Kerja Bongkar Muat
pada Kamis, 23 Juli 2026, di Kantor TKBM Kawasan Pelabuhan Makassar. Kegiatan
ini tidak hanya mendukung percepatan penemuan kasus tuberkulosis, tetapi juga
memperkuat upaya pencegahan penyakit menular lainnya di kawasan pintu masuk
negara. Melalui pemeriksaan kesehatan yang komprehensif, BBKK Makassar
menghadirkan layanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif sebagai
bagian dari penguatan sistem kewaspadaan kesehatan di lingkungan pelabuhan,
sekaligus memastikan bahwa para pekerja yang menjadi penggerak roda
perekonomian memperoleh perlindungan kesehatan yang optimal.
Pelabuhan
merupakan salah satu simpul strategis yang mempertemukan arus manusia, barang,
dan alat angkut dari berbagai daerah, bahkan berbagai negara. Tingginya
mobilitas tersebut menjadikan kawasan pelabuhan memiliki karakteristik
tersendiri dalam perspektif kesehatan masyarakat. Selain menjalankan fungsi
ekonomi, pelabuhan juga memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan
kesehatan nasional. Oleh karena itu, upaya pencegahan penyakit tidak cukup
hanya dilakukan terhadap pelaku perjalanan dan alat angkut, tetapi juga harus
menyentuh para pekerja yang setiap hari menjadi bagian dari dinamika aktivitas
di kawasan pelabuhan.
Bagi Tenaga
Kerja Bongkar Muat, kesehatan merupakan modal utama dalam menjalankan
profesinya. Aktivitas fisik yang berat, jam kerja yang dinamis, serta interaksi
dengan banyak orang menjadikan mereka kelompok yang memerlukan perhatian khusus
dalam aspek kesehatan. Tidak jarang, kesibukan bekerja membuat para pekerja
menunda pemeriksaan kesehatan hingga gejala penyakit sudah berkembang. Melalui
kegiatan skrining ini, layanan kesehatan hadir lebih dekat dengan pekerja
sehingga deteksi dini dapat dilakukan sebelum penyakit berkembang menjadi
kondisi yang lebih serius.
Sebanyak 50
orang Tenaga Kerja Bongkar Muat mengikuti skrining kesehatan yang dilaksanakan
secara terpadu. Seluruh peserta terlebih dahulu menjalani Cek Kesehatan Gratis
(CKG) yang meliputi pemeriksaan tekanan darah, denyut jantung, saturasi
oksigen, serta pengukuran antropometrik berupa berat badan, tinggi badan,
lingkar perut, dan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Pemeriksaan tersebut
memberikan gambaran awal mengenai kondisi kesehatan setiap peserta sekaligus
menjadi dasar pemberian edukasi mengenai pola hidup sehat dan pengendalian
faktor risiko penyakit.
Selain
pemeriksaan kesehatan dasar, skrining juga difokuskan pada deteksi dini
penyakit infeksi menular seksual (IMS), khususnya Human Immunodeficiency Virus
(HIV) dan sifilis. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode Rapid Diagnostic
Test (RDT) yang mampu memberikan hasil awal secara cepat dengan tetap
mengedepankan prinsip kerahasiaan dan kenyamanan peserta. Pendekatan ini
merupakan bagian dari strategi pencegahan yang menempatkan deteksi dini sebagai
langkah utama untuk memutus mata rantai penularan penyakit di masyarakat.
Hasil
pemeriksaan menunjukkan capaian yang menggembirakan. Dari seluruh peserta yang
mengikuti skrining, 100 persen memperoleh hasil nonreaktif pada pemeriksaan HIV
maupun sifilis. Temuan tersebut menjadi indikator positif bahwa kondisi
kesehatan para peserta, khususnya terkait penyakit infeksi menular seksual yang
diperiksa, berada dalam kondisi baik. Meskipun demikian, para peserta tetap
diberikan edukasi mengenai perilaku hidup sehat, pentingnya pemeriksaan
kesehatan secara berkala, serta upaya pencegahan agar kondisi tersebut dapat
terus dipertahankan.
Perhatian utama
kegiatan ini juga diarahkan pada upaya penanggulangan tuberkulosis. Skrining
dilakukan melalui wawancara mengenai gejala, riwayat kesehatan, serta
identifikasi faktor risiko. Dari hasil skrining tersebut, satu orang peserta
teridentifikasi sebagai suspek tuberkulosis sehingga dilakukan pengambilan
sampel sputum untuk selanjutnya diperiksa di laboratorium. Langkah ini
merupakan bagian dari prosedur standar dalam penemuan kasus aktif (active
case finding), yang memungkinkan diagnosis ditegakkan secara lebih akurat
sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin apabila hasil pemeriksaan
menunjukkan adanya infeksi TBC.
Pendekatan
deteksi dini seperti ini memiliki arti penting dalam pengendalian tuberkulosis
di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis
tersebut masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan nasional.
Banyak penderita yang baru terdiagnosis ketika penyakit telah berkembang atau
setelah terjadi penularan kepada orang lain. Oleh karena itu, menemukan kasus
sejak tahap awal merupakan salah satu strategi paling efektif untuk memutus
rantai penularan sekaligus meningkatkan keberhasilan pengobatan.
Kegiatan
skrining kesehatan ini juga mencerminkan transformasi pelayanan kesehatan yang
saat ini semakin mengedepankan upaya promotif dan preventif. Pelayanan
kesehatan tidak lagi hanya menunggu masyarakat datang ketika sakit, tetapi
hadir secara aktif menjangkau komunitas-komunitas yang memiliki risiko
tertentu. Melalui pendekatan tersebut, setiap individu memperoleh kesempatan
untuk mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga berbagai penyakit
dapat dicegah sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.
Sebagai
institusi yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan
di kawasan pintu masuk negara, BBKK Makassar terus memperkuat perannya melalui
berbagai kegiatan perlindungan kesehatan masyarakat. Selain melakukan
pengawasan terhadap alat angkut, pelaku perjalanan, barang, serta faktor risiko
kesehatan lainnya, BBKK Makassar juga berupaya membangun budaya hidup sehat di
lingkungan pelabuhan melalui edukasi, skrining kesehatan, dan kolaborasi dengan
berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan kolaboratif ini menjadi kunci dalam
menciptakan kawasan pelabuhan yang aman, sehat, dan produktif.
Keberhasilan
pelaksanaan kegiatan ini tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang diperiksa,
tetapi juga dari meningkatnya kesadaran para pekerja mengenai pentingnya
deteksi dini penyakit. Kesediaan para Tenaga Kerja Bongkar Muat untuk mengikuti
pemeriksaan menunjukkan bahwa kesadaran terhadap kesehatan semakin tumbuh. Hal
ini menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam mendukung keberhasilan
berbagai program kesehatan nasional, termasuk percepatan eliminasi
tuberkulosis.
Pada akhirnya,
menjaga kesehatan pekerja pelabuhan berarti menjaga keberlangsungan salah satu
urat nadi perekonomian Indonesia. Para Tenaga Kerja Bongkar Muat tidak hanya
memindahkan barang dari kapal ke darat atau sebaliknya, tetapi juga menjadi
bagian penting dari sistem logistik yang menopang kehidupan masyarakat. Ketika
kesehatan mereka terlindungi, produktivitas tetap terjaga, risiko penyebaran
penyakit dapat ditekan, dan ketahanan kesehatan di kawasan pintu masuk negara
semakin kuat. Melalui langkah sederhana berupa skrining kesehatan, Balai Besar
Kekarantinaan Kesehatan Makassar menunjukkan bahwa perlindungan kesehatan
dimulai dari kepedulian terhadap manusia yang berada di balik setiap aktivitas
pelabuhan, sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia yang
lebih sehat dan bebas tuberkulosis pada tahun 2030.
Latest News
- Deteksi Dini pada Pekerja Pelabuhan: Memperkuat Langkah Menuju Eliminasi TBC
- Menkes Budi Gunadi Sadikin Perkuat Upaya Eliminasi Kusta dan Sinergi Kesehatan dalam Kunjungan Kerja di Makassar
- Sehat & Peduli Lingkungan: Aksi Nyata untuk wujudkan Bandar Udara Sehat Hari ini
- BBKK Makassar Perkuat Diseminasi Informasi Lewat Workshop Komunikasi Digital Kesehatan Berbasis Artificial Intelligence (AI)
- Wakil Menteri Haji dan Umrah Lakukan Kunjungan dan Pembinaan PPIH di Embarkasi Makassar, Tekankan Pelayanan Responsif dan Berintegritas