News Details

Kasus Leptospirosis Meningkat, BBKK Makassar dan Dinkes Kota Makassar Melakukan Survei Kepadatan Tikus

Info
dikirim pada Feb 17, 2025 12:00 AM
oleh: Ibrahim, SKM, M.Kes

Tikus merupakan satwa/binatang yang hidup liar di berbagai tempat bahkan ada yang hidupnya dekat dengan kehidupan manusia. Kehadiran tikus di sekitar pemukiman dan tempat beraktivitas manusia dengan populasi tinggi dapat mengakibatkan kerugian pada manusia. Pada bidang pertanian, tikus merupakan salah satu hama yang dapat mengakibatkan penurunan produksi bahkan dapat mengakibatkan kegagalan panen. Sementara pada bidang kesehatan tikus dapat menjadi reservoir patogen penyakit pada manusia seperti Lepstospirosis dan Hanta virus, maupun ektoparasit/vektor yang dapat menularkan penyakit yaitu penyakit Pes. Selain itu, tikus juga dapat menularkan beberapa penyakit lain diantaranya adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome, Lympocytic choriommmeningitis, Rat bite fever, Murine typhus, Salmonellosis, Richettsial pox, Rabies, dan Trichinosiss.


Leptospirosis merupakan penyakit zoonosa yang menjadi ancaman bagi  kesehatan masyarakat Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira yang ditularkan melalui kencing tikus. Leptospirosis ditularkan melalui kontak dengan air, lumpur, tanaman yang telah dicemari oleh urine tikus. Penyakit Leptospirosis tersebar di berbagai negara di seluruh dunia dan  banyak terjadi di daerah tropis dengan kondisi lingkungan atau sanitasi yang buruk. Leptospirosis bersifat endemik yang terjadi sepanjang tahun terutama di daerah banjir ketika musim penghujan karena salah satu sumber penularan leptospirosis berasal dari urine tikus yang mengkontaminasi air banjir.


Menurut International Leptospirosis Society (ILS), Indonesia menjadi negara dengan insiden Leptospirosis yang tinggi. Setelah negara Cina dan India, Indonesia menduduki peringkat ke-3 di dunia untuk kasus mortalitas atau kematian yang paling tinggi. Angka kematian (CFR) Leptopirosis di Indonesia mencapai 2,5%-16,45% (rata-rata 7,1%), namun penderita yang berusia 50 tahun ke atas memiliki CFR mencapai 56%. WHO (2013) menyebutkan bahwa diperkirakan terdapat 10 atau lebih kasus leptospirosis per 100.000 orang yang tinggal di daerah tropis, sedangkan di daerah subtropis diperkirakan terdapat 0,1-1 kasus per 100.000 orang.


Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2020, ada total 8 provinsi yang melaporkan kasus Leptospirosis dengan total 1.170 kasus dan 106 kematian (CFR 9,1%). Provinsi-provinsi tersebut antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Selatan.


Kejadian penyakit yang menewaskan 6 orang nelayan dan 14 orang lainnya menderita sakit pada kapal KM Sri Mariana pada bulan Agustus 2024 dengan hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium yang menyimpulkan bahwa penyakit yang merenggut nyawa para nelayan dan menyebabkan sakit pada kru kapal lainnya adalah penyakit Leptospirosis yang dibawa oleh tikus.


Kasus Leptospirosis di Sulawasi Selatan pada tahun 2024 terjadi di beberapa kabupaten/kota yaitu Kota Makassar, Kota Parepare, dan kabupaten Sidrap.  Pada awal tahun 2025 di Kota Makassar terjadi peningkatan kasus dibanding tahun 2024 sebanyak 1 kasus menjadi  5 kasus yang tersebar di 4 kecamatan yaitu kecamatan Manggala (1 kasus), kecamatan Bontoala (1 kasus), kecamatan Biringkanaya Raya (1 kasus), dan kecamatan Mamajang (2 kasus).


Dinas Kesehatan Kota Makassar bersama  Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Makassar, Puskesmas Malimongan Baru dan Pukesmas Sudiang Raya melakukan survei kepadatan tikus dan deteksi bakteri Leptospira pada 2 lokasi diantara 4  lokasi kasus Leptospirosis di Kota Makassar yaitu di Kelurahan Laikang Kecamatan Biringkanaya dan Kelurahan Wajo Kecamatan Bontoala. Deteksi bakteri Leptospira dilakukan dengan mengirim sampel ginjal tikus untuk diperiksa secara Biomolekuler dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di Balai Laboratorium Makassar II.


Survei kepadatan tikus dilaksanakan selama dua hari di masing-masing lokasi dengan memasang 100 perangkap tikus setiap harinya. Pemasangan perangkap dilaksanakan pada tanggal 23 - 24 Januari 2025 di Kelurahan Sudiang Raya dan tanggal 3 - 4 Februari 2025 di Kelurahan Wajo.

Hasil pemasangan perangkap didapatkan 12 tikus (success trap =  6%) di Kelurahan Sudiang Raya dan 9 tikus ( success trap = 4,5%) di Kelurahan Wajo. Tikus yang didapatkan di kelurahan Sudiang Raya sebanyak 6 betina dan 6 jantan.  Sedangkan pemasangan perangkap di kelurahan Wajo didapatkan 3 jantan dan 6 betina. Succes trap merupakan indikator kepadatan tikus yang ditetapkan sebagai Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan (SBMKL) pada Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 2 tahun 2023 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 tahun 2014 tentang Kesehatan lingkungan. Succes trap dalam SBMKL  yang dipersyaratkan adalah <1, dengan demikian hasil pemasangan perangkap tikus melewati ambang batas atau tidak memenuhi standar. Hal ini berarti potensi penularan penyakit oleh tikus sudah ada dan perlu dilakukan pengendalian tikus terutama dengan memperbaiki kondisi sanitasi pada lingkungan sekitar tempat tinggal masyarakat.


Jenis tikus yang didapatkan pada kedua lokasi adalah jenis  Rattus tanezumi (tikus rumah) dan Rattus norvegicus (tikus got). Rattus tanezumi merupakan tikus yang tinggal di dalam rumah sedangkan Rattus norvegicus adalah tikus yang hidup di sekitar rumah dan menyukai tempat yang lembab seperti saluran air/got tetapi dalam mencari makanan sering juga masuk ke dalam rumah sehingga kedua jenis tikus ini dekat dengan kehidupan manusia sehingga keduanya juga mempunyai potensi yang besar untuk  menularkan penyakit yang dibawa oleh kedua tikus ini.


Hasil pemeriksaan terhadap  sampel ginjal tikus yang tertangkap yang dilakukan di  Balai Laporatorium Kesehatan Masyarakat Makassar II didapatkan 8 tikus  positif Leptospira (66.67% dari 12 tikus tertangkap) di kelurahan Laikang dan 4 positif Leptospira (44,44% dari 9 tikus tertangkap) di Kelurahan Wajo. Dari hasil laboratorium yang menunjukkan positive rate yang dapat  menegaskan kemungkinan penularan Leptospirosis dari hewan (tikus) terhadap manusia sudah dapat terjadi.


Survei kepadatan tikus dan deteksi Leptospira juga telah dilaksanakan di 4 lokasi wilayah kerja BBKK Makassar yaitu Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar, pelabuhan Makassar, pelabuhan Paotere dan pelabuhan Biringkassi (Maccini Baji). Hasil yang didapatkan untuk Bandara Sultan Hasanuddin didapatkan success trap = 1,1% dengan tikus positif Leptospira sebanyak  40%, di Pelabuhan Makassar dengan success trap = 1% dengan tikus positif Leptospira  sebanyak 50%, di Pelabuhan PPaotere dengan success trap = 1,3% dengan tikus positif Leptospira  sebanyak 25%, sedangkan di pelabuhan Maccini Baji tidak ada tikus tertangkap (success trap = 0).


Dari survei kepadatan tikus baik di lokasi kasus Leptospirosis Kota Makassar maupun di lokasi bandara/pelabuhan menunjukkan adanya potensi penularan penyakit Leptosprosis dari tikus ke manusia, apalagi pada bulan Januari dan Februari 2025 dengan musim hujan yang menyebabkan genangan air bahkan banjir sehingga perlu diwaspadai penularannya apalagi sudah ada kasus penyakit pada manusia. (Ibrahim)


KOMENTAR

Tinggalkan Pesan





Ada yang bisa kami bantu?